
Kalau lagi jalan-jalan ke kawasan Kota Tua Jakarta, rasanya tuh kagum banget sama keindahan arsitektur era kolonial yang megah, elegan, dan timeless meski sudah berusia ratusan tahun. Garis-garisnya tegas dan rapi, bentuknya simetris, tapi kesan glamor dan elegan ala film The Great Gatsby terasa kuat banget.
Namun, satu hal yang masih sering membuat saya penasaran, apa nama desain arsitektur yang digunakan para arsitek? Berbeda dengan desain arsitektur modern yang lebih mengedepankan fungsionalitas sehingga terkadang membuat bangunan terkesan monoton dan hambar, bangunan era kolonial ini punya kesan yang lebih dinamis. Nah, setelah saya kulik di internet, akhirnya ketemu juga gaya arsitektur yang membuat saya terpanah, namanya adalah desain Art Deco!
Meski sudah eksis sejak dekade 1920-an, gaya arsitektur dan interior yang satu ini memang timeless banget. Nggak heran kalau sampai sekarang Art Deco masih terus jadi favorit, baik buat kamu yang hobi dekorasi rumah maupun para pencari properti yang mendambakan hunian berkarakter kuat dengan nilai estetika tinggi.
Penasaran kan, kenapa gaya arsitektur klasik ini bisa tetap kelihatan fresh, modern, dan elegan sampai sekarang? Yuk, kita bedah tuntas mulai dari arti, perjalanan sejarahnya, sampai cara menyulap hunian kamu jadi super estetik di bawah ini!
Table of Contents
Jawaban Cepat
- Arti Desain Art Deco: Desain Art Deco adalah gaya seni dekoratif dan arsitektur yang dicirikan oleh bentuk-bentuk geometris tegas (seperti chevron, zig-zag, dan trapesium), garis lurus simetris, serta perpaduan antara aspek fungsionalitas dan penggunaan material modern.
- Sejarah Art Deco: Gaya ini lahir di Prancis pada era pasca-Perang Dunia I (120-an) dan secara resmi diperkenalkan ke dunia internasional melalui pameran Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes di Paris pada tahun 1925. Istilah "Art Deco" sendiri dipopulerkan kembali oleh sejarawan Bevis Hillier pada dekade 1960-an.
- Pengaruh pada Desain Modern: Arsitektur Art Deco menjembatani transisi dari ornamen klasik abad ke-19 yang rumit menuju prinsip modernisme: simplifikasi bentuk, efisiensi ruang, pemanfaatan bahan pabrikan industri (stainless steel, beton, dan kaca patri), serta melahirkan evolusi gaya Streamline Moderne dan arsitektur minimalis modern.
- Contoh Bangunan di Indonesia: Vila Isola (Bandung), Hotel Savoy Homann (Bandung), Museum Bank Mandiri (Jakarta), Bioskop Metropole/Megaria (Jakarta), dan Roemahkoe Heritage Hotel (Surakarta).
Pengertian Desain Art Deco, Sejarah, dan Perkembangannya

Desain Art Deco adalah sebuah aliran seni dekoratif, desain interior, dan arsitektur yang mengombinasikan bentuk-bentuk geometris tegas, garis simetris, serta ornamen visual berani dengan prinsip efisiensi modern.
Secara visual, aliran ini mudah dikenali melalui susunan bidang lurus, trapesium, pola zig-zag, dan kurva melengkung yang terstruktur rapi. Berbeda dari gaya terdahulu yang berfokus pada ornamen organik dari alam, interior Art Deco mengutamakan impresi kemewahan yang rapi, simetris, dan fungsional.
Secara fungsional, aliran ini memadukan nilai keindahan dengan kepraktisan struktur. Setiap elemen geometris, mulai dari lis dinding, pola lantai, hingga fasad eksterior, dirancang bukan hanya sebagai hiasan, melainkan juga untuk mempertegas proporsi, batas ruang, dan pencahayaan alami bangunan.
Art Deco merupakan gaya hias ornamental yang lahir pasca-Perang Dunia I dan berkembang pesat sepanjang dekade 1920-an hingga 1930-an sebelum berakhir di awal Perang Dunia II. Aliran ini bersifat dekoratif murni, praktis, serta merepresentasikan modernisasi dunia yang serba cepat tanpa dilandasi oleh ideologi politik atau filsafat tertentu.
Istilah "Art Deco" berakar dari pameran L'Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes yang diselenggarakan di Paris, Prancis pada tahun 1925. Meskipun pameran tersebut diadakan pada tahun 1925, terminologi "Art Deco" sendiri baru diperkenalkan secara resmi pada tahun 1966 dalam katalog pameran Les Années 25 di Paris, serta semakin dipopulerkan melalui publikasi buku karya Bevis Hillier pada dekade akhir 1960-an.
Secara eklektik, Art Deco memadukan berbagai elemen aliran seni modern awal abad ke-20, seperti Kubisme, Futurisme, Konstruktivisme, Bauhaus, dan Art Nouveau, dengan sentuhan estetika kuno dari Mesir (terutama pasca-penemuan makam Raja Tutankhamun), Persia, Siria, serta kebudayaan Mesoamerika.
Pengaruh Gaya Art Deco pada Arsitektur dan Desain Modern
Penerapan Art Deco membawa perubahan fundamental dalam prinsip perancangan bangunan yang mendasari tren arsitektur modern hingga saat ini:
- Transisi Menuju Simplifikasi Bentuk: Art Deco menjadi jembatan utama yang menghentikan tren dekorasi rumit berlebihan (seperti gaya Art Nouveau atau Barok) dan mengarahkannya pada bentuk bangunan yang lebih efisien, teratur, dan fungsional.
- Adopsi Material Industri Massal: Aliran ini memelopori penggunaan material hasil industri modern, seperti stainless steel, aluminium, kaca tebal, ubin teraso, dan beton bertulang. Material-material ini hingga kini menjadi standar utama dalam konstruksi rumah modern.
- Pondasi Gaya Streamline Moderne dan Minimalisme: Pada dekade 1930-an, Art Deco berkembang menjadi gaya Streamline Moderne, sebuah aliran yang menekankan garis horizontal panjang, sudut tumpul melengkung, dan siluet aerodinamis. Prinsip pemangkasan ornamen dan penekanan pada bentuk geometris dasar ini menjadi cikal bakal berkembangnya desain rumah minimalis modern di era kontemporer.
Karakteristik Utama Arsitektur Art Deco

Untuk mengenali sebuah desain bangunan bergaya Art Deco, terdapat beberapa karakteristik mendasar yang membedakannya secara tegas dari gaya arsitektur klasik maupun modern kontemporer. Kombinasi antara estetika era industri, proporsi matematis, dan sentuhan kemewahan terpancar jelas melalui elemen-elemen berikut:
1. Penggunaan Pola dan Motif Geometris yang Tegas
Salah satu ciri-ciri Art Deco yang paling menonjol adalah penerapan pola geometris repetitif pada elemen eksterior maupun interior Art Deco. Gaya ini secara penuh meninggalkan bentuk-bentuk kurva organik meliuk dari alam yang populer pada era Art Nouveau, lalu menggantikannya dengan motif linier bersudut tajam seperti chevron (pola V), zig-zag, trapesium, dan pancaran sinar matahari (sunburst). Motif-motif ini diterapkan pada lis profil dinding, kisi-kisi ventilasi, ornamen kaca patri, hingga susunan ubin lantai untuk mencerminkan dinamika era mesin dan presisi teknologi.
2. Keseimbangan Fasad Bangunan yang Simetris
Arsitektur Art Deco mengandalkan prinsip keseimbangan visual yang kuat melalui tatanan fasad depan yang simetris. Tampak depan bangunan dirancang dengan pembagian rasio yang presisi antara sisi kiri dan kanan, berpusat pada area pintu masuk utama yang dibuat menjulang atau dominan. Penataan barisan jendela, pilar dekoratif, dan ornamen garis vertikal maupun horizontal disusun secara berulang untuk menciptakan kesan bangunan yang terstruktur, rapi, dan berwibawa.
3. Profil Atap Berundak (Ziggurat) dan Struktur Atap Datar
Gaya bangunan Art Deco sering kali menampilkan siluet atap yang khas berupa struktur berundak yang terinspirasi dari bentuk punden berundak kuno (ziggurat) serta arsitektur piramida masa lalu. Struktur berundak ini biasanya ditempatkan pada puncak menara atau bagian atas fasad bangunan untuk memberikan efek visual bertingkat yang menjulang ke atas. Untuk menyeimbangkan profil berundak tersebut, bagian atap utama umumnya dibuat datar (flat roof) guna menegaskan siluet bangunan yang modern dan efisien.
4. Eksperimen Material Industri Modern dan Finis Berkilau
Perkembangan gaya ini sangat erat kaitannya dengan kemajuan produksi material pada awal abad ke-20. Bangunan bergaya Art Deco secara berani mengombinasikan bahan konstruksi solid—seperti beton bertulang, batu marmer, dan kayu bertekstur tebal—dengan material pabrikan berkilau seperti stainless steel, lapisan krom, aluminium, kaca patri, kaca es, serta ubin teraso. Efek pantulan cahaya dari material logam dan kaca ini sengaja dirancang untuk memberikan impresi kemewahan yang bersih, glamor, dan futuristik.
5. Permainan Skema Warna Kontras dan Berani
Ekspresi visual pada desain Art Deco diperkuat melalui pemilihan skema warna berani dengan tingkat kontras yang tinggi. Dinding utama biasanya dilapisi warna-warna dasar netral seperti krem, putih tulang, atau abu-abu semen untuk memberikan latar belakang yang bersih. Warna netral tersebut kemudian dipadukan secara dramatis dengan warna aksen yang kaya, seperti emas, hitam, hijau zamrud, atau biru tua, pada elemen pilar, bingkai jendela, dan ornamen dekoratif guna mempertegas garis arsitektur dan kedalaman dimensi bangunan.
Daftar Bangunan Bergaya Art Deco di Indonesia
Indonesia memiliki warisan arsitektur Art Deco yang sangat kaya, hasil adopsi para arsitek Belanda pada era kolonial yang menyesuaikan desain Eropa dengan iklim tropis Indonesia (Indo-European Deco). Berikut adalah daftar bangunan utama beserta penjelasannya:
Vila Isola (Bandung)
Dirancang oleh arsitek C.P. Wolff Schoemaker pada tahun 1933 sebagai tempat tinggal pribadi penerbit C.W. Berretty, Vila Isola merupakan salah satu karya masterpiece arsitektur Art Deco tropis di dunia. Bangunan yang kini difungsikan sebagai Kantor Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini menampilkan siluet kurva melengkung yang aerodinamis. Tatanan bangunannya memperhitungkan poros simetris yang menghubungkan pemandangan Gunung Tangkuban Parahu di sebelah utara dan Kota Bandung di sebelah selatan.
Hotel Savoy Homann (Bandung)
Berlokasi di Jalan Asia Afrika, Bandung, Hotel Savoy Homann dibangun pada tahun 1939 berdasarkan rancangan arsitek A.F. Aalbers. Bangunan ini merupakan contoh bangunan Art Deco di Indonesia yang mengusung aliran Streamline Moderne. Ciri khas utamanya terlihat pada fasad luar bangunan yang melengkung secara horizontal, menyerupai gelombang atau lekukan kapal pesiar, serta dilengkapi dengan balkon memanjang yang berfungsi sebagai penahan sinar matahari tropis.
Museum Bank Mandiri (Jakarta)
Terletak di kawasan Kota Tua Jakarta, bangunan yang didirikan pada dekade 1930-an ini awalnya merupakan kantor pusat Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM). Dirancang oleh tim arsitek J. de Bruyn, A.P. Smits, dan C. van de Linde, bangunan ini mengusung gaya Nieuw Zakelijk yang berpadu kuat dengan Art Deco Klasik. Karakter Art Deco sangat kental terlihat pada tata ruang simetris, penggunaan material teraso pada lantai, serta ornamen kaca patri besar bermotif geometris di dalam aula utamanya.
Bioskop Metropole / Megaria (Jakarta)
Bioskop Metropole dirancang pada akhir dekade 1930-an oleh arsitek Liauw Goan Sing dan resmi dibuka pada awal dekade 1950-an. Sebagai kompleks bioskop tertua bergaya Art Deco yang masih beroperasi di Jakarta, bangunan ini memiliki ciri khas menara berundak di bagian atas pusat fasad, bukaan jendela beratap pelindung melengkung, serta ornamen bidang lurus tegas yang mencerminkan desain bangunan publik modern Pertengahan Abad ke-20.
Roemahkoe Heritage Hotel (Surakarta)
Didirikan pada tahun 1938 di kawasan Laweyan, Surakarta, bangunan ini menjadi contoh akulturasi antara arsitektur tradisional Jawa dan gaya Art Deco. Struktur dasar bangunan tetap menggunakan konsep atap limasan tropis khas Jawa, namun dipadukan dengan pintu dan jendela tinggi berbingkai lengkung, elemen lantai ubin bermotif, serta dekorasi kaca patri bertema geometris khas Art Deco.
Panduan Menerapkan Sentuhan Art Deco pada Hunian Modern
Bagi Anda yang ingin mengadaptasi elemen Art Deco ke dalam rumah tinggal modern, beberapa langkah praktis berikut dapat diterapkan:
- Penerapan Elemen Geometris pada Lantai dan Dinding: Gunakan keramik atau ubin bermotif geometris (seperti pola catur, trapesium, atau chevron) pada area foyer atau kamar mandi.
- Aksen Logam dan Kaca pada Furnitur: Pilih furnitur bergaris tegas dengan kombinasi material kayu gelap, aksen kuningan/krom berkilau, dan permukaan kaca.
- Pencahayaan Berkarakter: Gunakan lampu gantung (chandelier) atau lampu dinding berbahan kaca es dengan bingkai logam geometris simetris sebagai focal point ruangan.
- Pemilihan Warna: Terapkan warna dasar netral pada dinding utama, kemudian berikan warna aksen tegas (seperti hijau tua, biru navy, atau emas) pada satu sisi feature wall atau aksesori interior.
Wujudkan Hunian Berkarakter Arsitektur Impian Bersama CariProperti
Memilih hunian dengan karakter arsitektur yang kuat, seperti gaya Art Deco maupun minimalis modern, memerlukan kecermatan, baik dari segi estetika struktur maupun keabsahan dokumen legalitasnya. Sebelum melakukan investasi properti, pastikan seluruh berkas utama seperti SHM serta Persetujuan Bangunan Gedung (PBG/IMB) telah terverifikasi dengan benar.
Jika Anda sedang mencari rumah dijual legalitas lengkap atau membutuhkan panduan dalam memilih aset properti terbaik, manfaatkan layanan konsultasi properti CariProperti. Melalui CariProperti, Anda dapat menemukan ribuan pilihan hunian terverifikasi di berbagai lokasi strategis lengkap dengan pendampingan unit secara profesional hingga proses transaksi selesai.

Author
Rakay Diso
Rakay adalah seorang SEO Writer di CariProperti. Ia sudah berpengalaman selama lebih dari 2 tahun dalam bidang penulisan, khususnya di bidang properti. Mengkhususkan diri, tetapi tidak terbatas, pada topik desain arsitektur, interior, dan gaya hidup urban di rumah, Ia percaya bahwa konten yang berkualitas dapat memberikan dampak positif yang besar bagi pembaca dalam mengambil keputusan. Kenali Rakay Diso lebih dekat di LinkedIn.