
Dalam beberapa tahun terakhir, isu lingkungan di perkotaan semakin menjadi perhatian serius, terutama di Jakarta sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara. Data menunjukkan bahwa kualitas udara di Jakarta berada pada level yang mengkhawatirkan.
Konsentrasi PM2.5 pada tahun 2018 mencapai 45,3 μg/m³, jauh di atas standar WHO yang hanya 10 μg/m³. Bahkan dalam beberapa periode, indeks kualitas udara Jakarta sempat masuk kategori tidak sehat hingga terburuk di dunia .
Tidak hanya polusi udara, tren kenaikan suhu juga menjadi tantangan nyata. Rata-rata suhu harian di Jakarta berada di kisaran 23–32°C, dan kondisi tertentu seperti kelembaban tinggi dapat memperparah akumulasi polutan di atmosfer.
Di sinilah konsep green building di Indonesia menjadi semakin relevan. Dengan pendekatan yang berfokus pada efisiensi energi, pengelolaan sumber daya, serta kualitas lingkungan dalam ruang, green building hadir sebagai solusi strategis untuk menciptakan bangunan yang lebih ramah lingkungan sekaligus berkelanjutan di tengah kondisi kota yang semakin kompleks.
Menariknya lagi, sekarang juga sudah semakin banyak perumahan atau cluster yang menerapkan konsep green living sehingga memungkinkan Anda memiliki rumah yang hemat energi dan juga sehat, seperti pilihan rumah di CariProperti.
Gak perlu lama-lama lagi, mari kita cari tahu apa itu konsep green building di Indonesia dan contohnya!
Table of Contents
Mengenal Lebih Dekat Konsep Green Building di Indonesia
Secara umum, green building di Indonesia adalah konsep pembangunan bangunan yang dirancang untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan, mulai dari tahap desain, konstruksi, hingga operasional.
Konsep ini tidak hanya berfokus pada aspek fisik bangunan, tetapi juga mencakup bagaimana bangunan tersebut mampu:
- Menghemat konsumsi energi (efisiensi energi bangunan)
- Mengoptimalkan penggunaan air (konservasi air gedung)
- Menggunakan material ramah lingkungan
- Meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan dalam ruang
Standar Green Building: Dari Indonesia hingga Dunia Internasional

Penerapan green building di Indonesia tidak terlepas dari standar penilaian yang digunakan untuk mengukur seberapa ramah lingkungan suatu bangunan. Di Indonesia, sistem yang digunakan adalah Greenship yang dikembangkan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI).
Standar ini dirancang khusus untuk kondisi iklim tropis dan menilai bangunan berdasarkan beberapa aspek utama seperti efisiensi energi, konservasi air, penggunaan material ramah lingkungan, kualitas udara dalam ruang, serta manajemen lingkungan bangunan.
Setiap bangunan kemudian diklasifikasikan dalam peringkat Bronze, Silver, Gold, hingga Platinum berdasarkan performanya.
Secara global, terdapat beberapa standar lain yang juga banyak digunakan. Salah satunya adalah LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) yang berasal dari Amerika Serikat dan telah digunakan di lebih dari 100 negara. LEED berfokus pada efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, serta kualitas lingkungan dalam ruang, sehingga sering menjadi acuan untuk proyek properti berskala internasional.
Di Eropa, standar yang umum digunakan adalah BREEAM (Building Research Establishment Environmental Assessment Method), yang dikenal sebagai salah satu sistem sertifikasi green building tertua dengan penilaian yang lebih detail, termasuk aspek manajemen bangunan, kesehatan penghuni, hingga transportasi.
Sementara itu, Jepang menggunakan sistem CASBEE (Comprehensive Assessment System for Built Environment Efficiency), yang memiliki pendekatan berbeda dengan menilai rasio antara kualitas bangunan dan dampak lingkungannya.
10 Contoh Green Building di Indonesia yang Sudah Terbukti Efisien
Penerapan green building di Indonesia sudah terlihat dari berbagai bangunan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menekan konsumsi energi dan biaya operasional secara signifikan. Berikut 10 contoh yang paling representatif dan sering dijadikan acuan.
1. Menara BCA

Sebagai salah satu ikon gedung perkantoran di Jakarta, Menara BCA berhasil meraih sertifikasi Greenship Platinum, level tertinggi dalam standar green building di Indonesia. Keunggulan utamanya terletak pada efisiensi energi, di mana gedung ini mampu menghemat konsumsi listrik hingga 35% dibandingkan gedung sejenis.
2. Sequis Center

Gedung perkantoran di kawasan Sudirman ini menjadi contoh nyata penerapan green building di Indonesia dengan sertifikasi Greenship Gold. Sequis Center berhasil menurunkan penggunaan listrik hingga 28,12% dan konsumsi air sebesar 28,26% melalui sistem efisiensi energi dan pengelolaan air yang optimal.
3. Kementerian Pekerjaan Umum

Gedung pemerintah ini menunjukkan bahwa konsep green building juga diterapkan di sektor publik. Dengan sertifikasi Greenship Platinum, bangunan ini mampu menghemat energi hingga 61%, serta mengimplementasikan sistem daur ulang air untuk meningkatkan efisiensi sumber daya.
4. Sampoerna Strategic Square

Mengusung desain klasik Eropa, gedung ini tetap mengintegrasikan konsep ramah lingkungan dengan baik. Dengan sertifikasi Greenship Gold, bangunan ini menerapkan manajemen limbah, peningkatan kualitas udara, serta efisiensi air hingga 42%, menjadikannya salah satu contoh green building di Indonesia yang seimbang antara estetika dan fungsi.
5. Pacific Place

Sebagai pusat perbelanjaan premium, Pacific Place menjadi mall pertama di Indonesia yang meraih Greenship Platinum. Melalui strategi operasional seperti pengaturan penggunaan AC dan efisiensi waktu operasional, gedung ini mampu menghemat biaya hingga 25% per bulan.
6. Gedung Teraskita

Gedung ini memperoleh pengakuan dari International Finance Corporation (IFC) berkat efisiensi operasionalnya. Dengan sistem pengelolaan energi dan air yang berkelanjutan, Teraskita mampu menekan biaya operasional hingga 50% per tahun, menjadikannya salah satu contoh green building di Indonesia yang sangat efisien.
7. Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM (GIK UGM)

Yogyakarta kini juga punya salah satu green building di Indonesia yang jadi kebanggaan, yaitu Gelanggang Inovasi dan Kreatvitas UGM (GIK UGM). Bangunan terbaru yang ada di kawasan UGM ini menjadi salah satu ikon serta tempat kumpulnya mahasiswa untuk beraktivitas, baik itu berkesenian, mengerjakan tugas akhir, atau membuat sebuah proyek bersama teman-teman mereka. Pada bagian rooftop terdapat sebuah taman yang cukup luas dengan desain minimalis tropis yang memesona sehingga cocok dimanfaatkan sebagai ruang komunikasi sambil menikmati pemandangan kota Jogja dari atas.
8. L’Oréal Indonesia

Perusahaan multinasional ini menjadi contoh penerapan green building dengan standar internasional. Gedungnya berhasil memperoleh sertifikasi LEED dan Greenship Interior Space berkat sistem daur ulang air serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
9. Wisma Subiyanto

Wisma Subiyanto menunjukkan bahwa konsep green building di Indonesia juga diterapkan pada bangunan baru. Gedung ini meraih sertifikasi Greenship Silver untuk kategori New Building, yang menandakan penerapan prinsip ramah lingkungan sejak tahap perencanaan.
10. Alamanda Tower

Gedung perkantoran ini dikenal karena efisiensi operasionalnya yang tinggi. Dengan pengelolaan energi dan air yang optimal, Alamanda Tower mampu menghemat biaya hingga 34% atau sekitar Rp4 miliar per tahun, menjadikannya salah satu contoh green building di Indonesia yang berdampak langsung secara finansial.
Tantangan Penerapan Green Building di Indonesia
Biaya Awal yang Masih Tinggi
Salah satu tantangan utama dalam penerapan green building di Indonesia adalah tingginya biaya investasi awal. Penggunaan material ramah lingkungan, teknologi hemat energi, hingga sistem daur ulang air membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan konstruksi konvensional. Hal ini membuat banyak developer masih ragu untuk mengadopsinya secara luas.
Minimnya Insentif dan Dukungan Regulasi
Meskipun pemerintah telah mendorong pembangunan berkelanjutan, insentif yang diberikan masih dinilai belum cukup kuat. Kurangnya stimulus finansial serta kebijakan yang belum merata membuat adopsi green building berjalan lebih lambat dari potensi yang ada.
Rendahnya Kesadaran dan Edukasi Pasar
Tantangan berikutnya adalah rendahnya pemahaman masyarakat dan pelaku industri terhadap manfaat jangka panjang green building. Banyak pihak masih berfokus pada biaya awal, tanpa mempertimbangkan efisiensi operasional dalam jangka panjang seperti penghematan energi dan air.
Keterbatasan Material dan Teknologi
Di lapangan, implementasi green building sering terhambat oleh keterbatasan material ramah lingkungan dan teknologi pendukung. Beberapa material bahkan masih harus diimpor karena industri lokal belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan konstruksi hijau.
Kesiapan SDM dan Tenaga Ahli
Penerapan green building membutuhkan tenaga profesional yang tersertifikasi dan memiliki keahlian khusus. Namun, ketersediaan SDM yang kompeten masih terbatas, sehingga menjadi hambatan dalam proses perencanaan hingga pembangunan.
Green Building di Indonesia, Investasi Masa Depan yang Semakin Relevan
Melihat perkembangan yang ada, green building di Indonesia bukan lagi sekadar tren, melainkan sudah menjadi arah baru dalam pembangunan properti yang lebih berkelanjutan. Berbagai contoh bangunan yang telah tersertifikasi menunjukkan bahwa konsep ini mampu memberikan dampak nyata, mulai dari efisiensi energi, penghematan air, hingga penurunan biaya operasional dalam jangka panjang.
Menariknya, tren ini juga mulai merambah ke sektor hunian, di mana banyak developer kini menghadirkan rumah dengan konsep lingkungan hijau, tata udara yang lebih baik, serta fasilitas yang mendukung gaya hidup berkelanjutan. Hal ini membuka peluang bagi masyarakat untuk tidak hanya memiliki tempat tinggal, tetapi juga berinvestasi pada kualitas hidup yang lebih baik.
Kalau Anda sedang mempertimbangkan untuk memiliki hunian yang nyaman sekaligus ramah lingkungan, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai mencari opsi terbaik. Anda bisa cek berbagai pilihan rumah asri sederhana di CariProperti dengan lingkungan hijau dan fasilitas lengkap yang tersedia di berbagai lokasi strategis.

Author
Rakay Diso
Rakay adalah seorang SEO Writer di CariProperti. Ia sudah berpengalaman selama lebih dari 2 tahun dalam bidang penulisan, khususnya di bidang properti. Mengkhususkan diri, tetapi tidak terbatas, pada topik desain arsitektur, interior, dan gaya hidup urban di rumah, Ia percaya bahwa konten yang berkualitas dapat memberikan dampak positif yang besar bagi pembaca dalam mengambil keputusan. Kenali Rakay Diso lebih dekat di LinkedIn.