Sah Naik 5,5%! Ini 6 Dampak Kenaikan Suku Bunga BI bagi Pelaku Properti

icon date 10 Jun 2026

Share:

whatsapptwitterfacebook
link
featured image

Pada Selasa, 9 Juni 2026 kemarin, Bank Indonesia resmi menaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebanyak 25 basis poin (25 bps) menjadi 5,50%. Di saat yang sama, suku bunga Deposit Facility dan Landing Facility juga ikut naik masing-masing 4,5% dan 6,25%.

Ada banyak faktor yang memengaruhi kenaikan suku bunga. Menurut Gubernur BI, Perry Warijo, langkah ini penting untuk diambil guna menjaga stabilitas rupiah yang terus tertertekan akibat gejolak global. "Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah," ujar Perry Warijo sebagaimana dikutip dari laman CNN Indonesia.

Kenaikan suku bunga ini cukup mengejutkan karena terjadi secara mendadak dan tentunya mendapatkan berbagai respon dari masyarakat, ada yang menanggapi positif dan juga negatif. Beberapa orang menyambut positif kebijakan ini karena terbukti mampu membuat rupiah kembali menguat ke angka Rp17.900-an setelah sebelumnya tertahan di angka Rp18.000,00. Namun tidak sedikit juga yang menyayangkan kebijakan ini karena dapat membebankan masyarakat dan perusahaan yang sedang mengambil kredit, khususnya KPR.

Lantas, apakah benar kenaikan BI rate bisa memengaruhi sektor properti? Agar lebih jelas, CariProperti kali ini akan membahas secara tuntas dampak kenaikan suku bunga BI bagi bidang properti.

Dampak Kenaikan Suku Bunga BI bagi Properti yang Umum Terjadi

dampak kenaikan suku bunga BI

1. Naiknya Suku Bunga Kredit Bank

Dampak kenaikan suku bunga BI yang pertama tentu saja adanya penyesuaian suku bunga kredit. Saat ini, suku bunga kredit masih berada di kisaran 8% – 13% dengan bunga KPR rata-rata berada di angka 11,5% – 12%. Dengan adanya kenaikan BI rate maka bukan tidak mungkin bunga kredit, khususnya KPR, akan ikut naik sebanyak 1–2% tergantung kebijakan masing-masing pemberi kredit.

Hal ini pasti menjadi kabar buruk bagi masyarakat yang tengan dalam masa floating KPR. Namun, menurut Pengamat ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, kenaikan ini tidak akan terjadi dalam waktu singkat dan tidak di semua bank. Ini sudah dibuktikan dalam laporan Rumah123 yang menyatakan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) tetap naik pada 2024 meski Bank Indonesia menurunkan suku bunga secara bertahap.

2. Turunnya Nilai Transaksi Investor

Selain dampak langsung yang bisa dirasakan masyarakat, kenaikan suku bunga BI juga berpengaruh pada nilai transaksi investor di sektor properti. Bunga yang tinggi dapat membuat penjualan properti semakin melambat. Hal ini tentunya dapat mengurangi nilai ROI (return of investment) bagi para investor.

3. Peningkatan Risiko Kredit

Meski bank bisa cukup diuntungkan saat adanya kenaikan BI rate melalui kenaikan Net Interest Margin (NIM), bukan berarti bebas risiko. Adanya kenaikan ini, maka risiko gagal bayar oleh debitur akan semakin tinggi yang menyebabkan naiknya angka Non Performing Loan (NPL). Itu artinya, semakin tinggi kenaikan suku bunga yang terjadi, maka peningkatan risiko kredit juga semakin tinggi.

4. Risiko Mendapat Plafon KPR yang Kecil

Selain bunga KPR floating yang ikut naik, dampak kenaikan suku bunga BI juga bisa membuat calon pembeli rumah mendapatkan plafon kecil. Bank memiliki aturan ketat mengenai Debt Service Ratio (DSR), di mana total cicilan bulanan maksimal 30%–40% dari gaji bersih pemohon. Karena suku bunga naik, maka estimasi cicilan bulanan untuk sebuah rumah otomatis ikut naik.

Akibatnya, jika dengan gaji Rp15 juta dulu konsumen bisa mendapatkan plafon pinjaman Rp1 Miliar, sekarang dengan suku bunga baru, bank mungkin hanya menyetujui plafon pinjaman sebesar Rp800 juta untuk tingkat gaji yang sama. Konsumen terpaksa harus menambah uang muka sebesar Rp200 juta secara tunai di awal agar sisa pinjamannya disetujui bank.

5. Biaya Konstruksi yang Membengkak

Mayoritas pengembang, bahkan yang berskala besar, tidak menggunakan 100% modal sendiri untuk membangun proyek. Mereka menggunakan Kredit Modal Kerja (KMK) atau Kredit Yasa Griya dari perbankan. Ketika BI-Rate menyentuh 5,50%, bank umum akan mengoreksi suku bunga pinjaman korporasi mereka, biasanya naik 1–2% di atas BI-Rate.

Oleh sebab itu, biaya bunga yang harus dibayar pengembang selama masa konstruksi membengkak. Hal ini otomatis menaikkan Harga Pokok Penjualan (HPP) per meter persegi bangunan. Selain itu, supplier material yang juga terdampak bunga tinggi biasanya akan menaikkan harga bahan baku (semen, besi, baja).

6. Dilema Penentuan Harga Jual Rumah

Dampak kenaikan suku bunga BI yang terakhir adalah adanya dilema dalam menentukan harga jual rumah bagi developer. Pasalnya, biaya modal naik, tapi kalau harga jual rumah langsung dinaikkan secara agresif, pasar bisa langsung lesu.

Maka dari itu, pengembang terpaksa harus mengorbankan profit margin mereka atau memutar otak membuat desain hunian yang lebih compact agar harganya tetap terjangkau. Salah satunya adalah dengan mengadopsi taktik shrinkflation. Harga rumah dibuat tetap sama, misal Rp800 juta, tetapi luas tanah atau bangunan dikurangi, misal dari tipe 60/45 menjadi tipe 50/36. Pilihan lainnya adalah menurunkan spesifikasi minor, seperti mengganti merek sanitary atau lantai keramik ke opsi yang lebih ekonomis namun tetap estetik.

 

Tips Menghadapi Dampak Kenaikan Suku Bunga BI agar Tidak Makin Boncos

Di setiap krisis pasti harus ada cara untuk menghadapinya. Nah, biar Anda tidak salah langkah, berikut adalah tips menghadapi kenaikan suku bunga versi CariProperti.

1. Pertimbangkan Strategi KPR Takeover ke Bank Lain

Jika cicilan rumahmu saat ini sudah masuk masa floating rate dan angkanya mulai bikin sesak napas, jangan hanya pasrah menerima keadaan. Anda bisa memindahkan sisa pinjaman KPR berjalanmu ke bank lain yang sedang agresif mencari nasabah baru melalui program takeover.

Biasanya, bank baru akan memberikan suku bunga fixed yang jauh lebih rendah dan stabil untuk beberapa tahun pertama, sehingga Anda punya ruang napas ekstra untuk menata kembali arus kas bulanan yang sempat berantakan.

2. Kunci Promo Fixed Rate dengan Tenor Jangka Panjang

Bagi Anda yang baru mau masuk ke pasar properti, era bunga tinggi adalah waktu yang tepat untuk mengutamakan kepastian finansial ketimbang sekadar mengejar angka murah sesaat. Hindari godaan jebakan Batman berupa bunga super rendah yang hanya dikunci selama satu tahun.

Jauh lebih aman memilih paket KPR dengan suku bunga yang mungkin sedikit lebih tinggi, namun memiliki masa fixed rate yang panjang, misalnya 5 hingga 10 tahun, agar Anda tidak perlu pusing memikirkan gejolak ekonomi makro di luar sana.

3. Pangkas Pokok Utang dengan Memperbesar Porsi Uang Muka

Mengambil opsi DP 0% memang sangat menggiurkan di awal, tetapi efek domino di belakangnya bisa sangat mematikan saat suku bunga melonjak karena pokok utang yang dihitung bank terlampau besar. Jika Anda memiliki dana dingin atau simpanan berlebih, gunakan momentum ini untuk memperbesar pembayaran uang muka di awal, misal 20% hingga 30%. Dengan memangkas nilai plafon pinjaman sejak awal, otomatis jumlah cicilan bulananmu akan ikut menyusut dan peluang lolos dari skrining ketat pihak bank akan terbuka lebar.

4. Lirik Skema Cash Bertahap Langsung ke Pengembang

Jangan biarkan ketatnya aturan dan tingginya bunga perbankan menghentikan langkahmu untuk memiliki aset. Sebagai alternatif, Anda bisa memanfaatkan fleksibilitas dari pengembang properti yang kini gencar menawarkan skema cash bertahap langsung ke mereka.

Dengan tenor yang kini makin kompetitif, bahkan ada yang berani hingga 3 sampai 5 tahun, Anda bisa mencicil hunian dengan bunga flat yang transparan, sekaligus terbebas dari kerumitan birokrasi peninjauan riwayat kredit (BI Checking).

5. Turunkan Ego Gengsi dan Evaluasi Ulang Budget Propertimu

Langkah terakhir yang paling krusial namun sering diabaikan adalah bersikap jujur dan realistis dengan kondisi dompet sendiri. Jika rumah impian di pusat kota menuntut porsi cicilan yang menembus batas aman 35% dari total penghasilan bersonilmu, mulailah melirik opsi rumah sekon (secondary) atau geser radar pencarian ke wilayah sub-urban yang terintegrasi transportasi publik.

 

Kesimpulan: Dampak Kenaikan Suku Bunga BI dan Solusi Cerdasnya

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) menjadi 5,50% membawa efek domino yang cukup signifikan bagi sektor properti. Bagi konsumen, kebijakan ini berpotensi menaikkan bunga KPR floating, memperketat seleksi plafon pinjaman oleh bank, hingga memicu pengembang melakukan penyesuaian harga atau ukuran rumah (shrinkflation).

Meski begitu, Anda tidak perlu panik atau menunda impian punya rumah. Kuncinya adalah menyusun strategi finansial yang tepat, seperti mengambil skema KPR takeover, mengunci promo fixed rate jangka panjang, memperbesar uang muka (DP) untuk memangkas pokok utang, atau melirik opsi cicilan cash bertahap langsung ke pihak pengembang.

 

Amankan Rumah Impian Anda Sekarang Bersama CariProperti!

Di tengah fluktuasi suku bunga perbankan, mengambil keputusan properti yang tepat membutuhkan panduan dari ahlinya agar keuangan Anda tidak boncos. Jangan biarkan momentum ini hilang!

Tim profesional dari CariProperti siap membantu Anda melakukan simulasi KPR yang aman, memilih pengembang dengan promo terbaik, hingga mencari solusi skema bayar yang paling fleksibel.

Yuk, temukan pilihan hunian paling ideal dengan penawaran terbaik untuk listing jual rumah baru di kota-kota beas hanya di CariProperti. Konsultasikan rencana pembelian rumah Anda sekarang juga secara gratis dan transparan!

 

Daftar Referensi

  1. CNN Indonesia. (2026, 8 Juni). BI Rate Naik Mendadak, Bagaimana Nasib Cicilan KPR?
  2. Ubaidillah, M. (2026, 8 Juni). Rumah123: Dampak Kenaikan BI Rare ke KPR Baru Terasa Akhir 2026. SWA.co.id.
  3. Ramalan, S. & Djumena, E. (2026, 10 Juni). BI Rate Naik: Saham Bank Bisa Diuntungkan, Properti Tertekan. Kompas.com
  4. Satria, R. P. (2024, 2 Mei). Colliers Indonesia Ungkap Lima Dampak Kenaikan BI Rate terhadap Bisnis Properti. Investortrust.id

Rakay adalah seorang SEO Writer di CariProperti. Ia sudah berpengalaman selama lebih dari 2 tahun dalam bidang penulisan, khususnya di bidang properti. Mengkhususkan diri, tetapi tidak terbatas, pada topik desain arsitektur, interior, dan gaya hidup urban di rumah, Ia percaya bahwa konten yang berkualitas dapat memberikan dampak positif yang besar bagi pembaca dalam mengambil keputusan. Kenali Rakay Diso lebih dekat di LinkedIn.

Artikel Lainnya

05 August 2025

9 Tips Bisnis Kontrakan untuk Pemula: Cuan Maksimal, Risiko Minimal

Bayangin kamu bisa punya penghasilan tetap setiap bulan, tanpa harus kerja dari pagi sampai malam. Cuma duduk manis di rumah, saldo rekening terus bertambah. Nah, inilah salah satu alasan kenapa banyak orang mulai tertarik terjun ke bisnis kontrakan....

23 June 2022

9 Rekomendasi Kartu Kredit Limit Besar yang Paling Worth it!

Apakah Anda sedang mencari kartu kredit limit besar? Jika iya, simak artikel berikut ini. Di era saat ini, sistem pembayaran semakin dipermudah dengan kartu kredit. Bagaimana tidak, kartu kredit memungkinkan Anda untuk melakukan transaksi yang dibay...

29 August 2025

Bolehkah Menjual Rumah yang Sedang Disewakan? Cek Dasar Hukumnya di Sini!

Banyak pemilik properti yang dihadapkan pada situasi ingin menjual rumah yang sedang disewakan, baik karena kebutuhan finansial, alasan pindah kota, maupun strategi investasi baru. Namun, kondisi ini sering menimbulkan pertanyaan, apakah penjualan ru...

23 June 2026

Mengenal Loan to Value: Rasio Penting yang Menentukan Persetujuan KPR Anda

Saat menggali lebih dalam ke dalam proses pengajuan kredit properti, terdapat berbagai parameter teknis yang digunakan oleh lembaga peruangan untuk menilai kelayakan nasabah. Salah satu metrik finansial paling krusial yang menentukan apakah permohona...

28 May 2026

Cara Kelola Gaji ke 13 PNS Terbaru: Trik Rahasia Uang Bonus Gak Numpang Lewat

Pencairan gaji ke-13 merupakan momentum tahunan yang selalu dinantikan oleh para Pegawai Negeri Sipil (PNS), Aparatur Sipil Negara (ASN), hingga para pensiunan. Dana tambahan ini hadir sebagai angin segar untuk meningkatkan likuiditas dan membantu me...